Senin, 06 Maret 2017

03. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

Lanjutan 02. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK 


1. Syukur

  1. Pengertian
    Syukur berarti berterima kasih kepada kepada Allah Swt. sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti ucapan dari perasaan senang, bahagia, melegakan ketika mengalami suatu kejadian yang baik. Secara istilah, Syukur merupakan suatu tindakan, ucapan, perasaan senang, bahagia, lega atas nikmat yang telah dirasakan, didapatkan, dari Allah Swt.


  2. Bentuk-Bentuk Syukur
    Mengacu kepada pengertian iman, yaitu membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikan dengan amal perbuatan, maka bentuk syukur juga ada tiga, yaitu:
    1) Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari
    dengan sepenuh bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah Swt. dan tiada seseorang pun selain Allah Swt. yang dapat memberikan nikmat itu. Bersyukur dengan hati juga berupa rasa gembira dan rasa terhadap nikmat yang telah diterimanya.
    2)  Bersyukur dengan lisan, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat hamdalah. Bahkan ada beberapa doa yang diajarkan oleh rasul sebagai ungkapan syukuratas nikmat tertentu, misalnya doa setelah makan, doa bangun
    tidur, doa selesai buang hajat dan lain sebagainya. 
    3) Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu menggunakan nikmat yang telah Allah berikan. Misalnya menggunakan anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang baik. 
    Misalnya:
    a)  menggunakan anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridhai Allah Swt.
    b)  jika seseorang memperoleh nikmat harta benda, maka ia
         mempergunakan harta itu sesuai dengan jalan Allah Swt.
    c)  Jika nikmat yang diperolehnya berupa ilmu pengetahuan, ia akan memanfaatkan ilmu itu 
         untuk keselamatan, kebahagian, dan kesejahteraan manusia dan diajarkan kepada orang lain; 
        bukan sebaliknya, ilmu yang diperoleh digunakan untuk membinasakan dan menghancurkan 
        kehidupan manusia.
        Sementara itu Imam Al-Ghazali menegaskan bahawa mensyukuri anggota tubuh yang diberikan Allah Swt. meliputi 7 anggota badan yang penting
    a). Mata, mensyukuri nikmat ini dengan tidak mempergunakannya untuk melihat hal-hal yang  
         maksiat; 
    b).Telinga, digunakan hanya untuk mendengarkan hal-hal yang baik dan tidak 
         mempergunakannya untuk hal-hal yang tidak boleh didengar; 
    c). Lidah, dengan banyak mengucapkan zikir, mengucapkan puji- pujian kepada Allah Swt. dan 
         mengungkapkan nikmat-nikmat yang diberikan. d)  Tangan, digunakan untuk melakukan   
         kebaikan-kebaikan terutama untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain, dan tidak 
         mempergunakannya untuk melakukan hal-hal yang haram;
    e) Perut, dipakai hanya untuk memakan makanan yang halal/baik dan tidak berlebih-lebihan 
        (mubazir). Makanan itu dimakan sekadar untuk menguatkan tubuh terutama untuk beribadath
        kepada Allah Swt.;
    f)  Kemaluan, dijaga kehormatan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah seperti zina dan pergaulan 
        bebas.
    g)  Kaki, digunakan untuk berjalan ke tempat-tempat yang baik, seperti ke masjid, naik haji ke 
        Baitullah (Ka’bah), mencari rezeki yang halal, dan menolong sesama umat manusia.

     Hikmah dan Manfaat Syukur
    a. Membuat seseorang bahagia karena apa yang ia dapatkan akan membawa manfaat bagi ia dan  
       orang-orang sekitarnya.
    b. Allah akan menambah nikmat yang ia peroleh sesuai dengan janji Allah Swt. dan akan 
        terhindar dari siksa yang amat pedih.
        ,, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; «Sesungguhnya jika kamu bersyukur,  
           pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),  
          Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14] : 7)
    c. Orang yang pandai bersyukur akan disukai oleh banyak orang, karena ia adalah orang yang 
        pandai berterima kasih terhadap sesama.

    Qona’ah


    Pengertian


          Qona’ah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang. Akan tetapi, qona’ah bukan berarti hidup santai, malas bekerja, tidak kreatif, statis dan tidak mau menerima perubahan. 

    Qona’ah dalam Kehidupan


           Qona’ah seharusnya menjadi sikap dasar setiap muslim. Karena

    sikap tersebut akan menjadi pengendali agar tidak larut dan surut dalam keputus asaan dan tidak maju dalam ketamakan dan keserakahan. Sikap yang demikian perlu dibudayakan dan dimasyarakatkan di masyarakat agar tidak timbul rasa dan sikap memonopoli segala sesuatu yang menyebabkan orang lain tidak mendapat kesempatan yang sama untuk meraih keberhasilan. Akibat dari keadaan tersebut akan muncul ketimpangan dan kesenjangan sosial. Sifat qana’ah juga dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat dengan tidak memperlihatkan kesombongan dan keangkuhan.
    Qona’ah dalam kehidupan pribadi seorang muslim juga berfungsi sebagai
    1. Stabilisator, maksudnya apabila seorang muslim telah memiliki sifat qana’ah, maka ia akan 
        selalu berhati tenteram, berlapang dada, merasa puas dengan apa yang dimilikinya, merasa 
        kaya dan terhindar dari sifat rakus, serakah dan tamak.
    2. Dinamisator, maksudnya apabila seorang muslim telah memiliki sifat qana’ah maka ia akan 
        mempunyai kekuatan batin yang selalu mendorong untuk mencapai kemajuan hidup
        berdasarkan keadaan dan kekuatan yang dimilikinya dengan tetap bergantung kepada
        kehendak dan karunia Allah.

    Keutamaan Qona’ah
         Dengan mempunyai sikap qana’ah, jiwa seseorang akan stabil karena ia mampu :

    a. Bersyukur apabila berhasil dalam usahanya dan jauh dari sifat sombong;
    b. Bersabar dan berlapang dada apabila gagal dan jauh dari sifat frustasi;
    c. Memiliki hati yang tenteram dan damai;
    d. Merasa kaya dan berkecukupan; 
    e. Membebaskan diri dari sikap rakus dan tamak;
    f.  Hidup hemat, tidak bergaya hidup lebih besar pasak daripada tiang;
    g. Menyadari bahwa harta berfungsi sebagai bekal ibadah.
    h. Menyadari bahwa kaya dan miskin itu tidak terletak pada harta, tetapi pada hati;
       '' Bukanlah kekayaan itu terletak pada banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya itu 
          adalah kekayaan hati. (HR. Bukhari Muslim)

    3. Ridha dan Sabar
    Pengertian
         Sabar adalah menerima segala sesuatu yang terjadi dengan senang
    hati. Orang yang ridha menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi itu
    merupakan kehendak Allah Swt.

    Bentuk-bentuk sabar
          Menurut Imam Al-Ghazali sabar adalah kesanggupan untuk mengendalikan diri, maka kesabaran merupakam upaya pengendalian nafsu yang ada dalam diri manusia. Dalam upaya tersebut manusia menjadi tiga tingkatan, yaitu:

    a. Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena ia mempunyai daya juang dan kesabaran yang tinggi.
    b. Orang yang kalah oleh hawa nafsunya. Ia telah mencoba untuk bertahan atas dorongan nafsunya, tetapi kesabarannya lemah, maka ia kalah.
    c. Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsunya, tetapi suatu ketika ia kalah, karena besarnya dorongan nafsu, meskipun demikian ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut.

    Sabar juga diterapkan dalam tiga hal: 
    1.Sabar dalam melaksankan ibadah. Untuk melaksankan ibadah membutuhkan kesabaran, sabar 
       untuk memulai dan sabar untuk melaksankannya, banyak di antara kita yang kurang sabar 
       dalam melaksankan ibadah wajib maupun ibadah sunnah. 
    2. Sabar dalam meninggalkan maksiat. Dalam benak kita, mungkin kita menganggap bahwa 
       maksiat adalah sesuatu yang indah, nikmat,dan mengasyikan. Zina dinggap nikmat, ,judi 
       dianggap akan membuat seseorang kaya raya, mencuri merupakan cara yang praktis untuk 
       mencari harta, mabuk mabukan adalah sesuatu yang membanggakan dan lain sebagainya.   
       Semua anggapan tersebut tentunya bisikan syetan yang dihembuskan lewat benak dan pikiran 
       kita. Untuk menghindari perbuatan perbuatan maksiat tersebut sungguh sangat membutuhkan 
       kesabaran. Demikian pula dengan seseorang yang telah terbiasa melaksanakan perbuatan 
       maksiat, misalnya ia terbiasa mabuk-mabukan, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, main 
       togel, berzina, dan sebagainya. Untuk berhenti, insyaf dan bertobat dari perbuatan-perbuatan 
       terlarang tersebut sungguh merupakan perjuangan yang berat dan membutuhkan kesabaran.
    3. Sabar dalam manghadapi musibah. Dalam hidup ini hanya ada dua kenyataan yaitu bahagia 
       atau sengsara, senang atau susah, berhasil atau gagal. Tidak mungkin kita akan bahagia, atau 
       senang terus-menerus, ada kalanya kita sedikit sengsara, susah atau pernah mengalami gagal. 
       Semua itu harus kita hadapi dengan sikap yang benar. Jika kita sedang bahagia, senang dan 
       berhasil, maka kita harus bersyukur dan ingat kepada Allah, memahasucikan Allah (tasbih), 
       memuji-Nya, dan beristighfar.

              Di samping itu kita juga harus sabar pada saat kita emosi ataau marah. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi situasi di mana situasi tadi membuat kita terpancing untuk marah. Dalam kondisi seperti kita membutuhkan kemampuan mengendalian diri dengan cara bersabar:  ''(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema›afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali-Imran [3] : 134) 

    Keutamaan sabar
    a. Orang yang sabar akan berhasil dalam meraih cita-citanya, ia akan memiliki jiwa yang kuat dan 
        tahan uji menghadapi berbagai persoalan hidup.
    b. Orang yang sabar akan dicintai Allah dan sebaliknya orang yang tidak sabar tidak dicintai 
        Allah, bahkan diperintahkan untuk mencari Tuhan selain Allah.
    c. Orang yang sabar akan tenang, karena sesungguhnya sikap sabar dan ridha adalah 
        mencerminkan puncak ketenangan jiwa seseorang.

    1. Oke guys jika in gin lanjutannya.,,yook kunjungi postingan 04. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK 

02. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

Lanjutan dari 01. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK 

4. Menjelaskan  hubbun-dun-ya, hasadtakabur/ujub, riya
    A. Hubbudunya.
        Pengertian ; Hu bbu ad-Duny berarti cinta dunia, yaitu menganggap harta benda adalah segalanya. Penyakit Hubbu ad-Duny (cinta pada dunia) berawal dari penyakit iman, yang berakar pada persepsi yang salah bahwa dunia ini adalah tujuan akhir kehidupan, sehingga akhirat dilupakan.

Ciri-ciri Hubbud-dun-ya 
1)  Menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana mencapai kebahagiaan akhirat
2)  Suka mengumpulkan harta benda dengan menghalalkan segala cara tanpa memperhatikan halal dan haramnya Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At-Taksur [102] : 1-2)
3)  Kikir, tidak rela sediki pun hartanya lepas atau berkurang. Jangankan untuk sedekah, zakat yang memang wajib saja ia tidak mau. Pada puncaknya ia juga akan kikir kepada dirinya, sehingga ketika dia sakit tidak mau berobat karena khawatir hartanya berkurang 
4)  Serakah dan rakus serta tamak. Ia tidak puas dengan apa yang telah ia miliki sehingga ia akan berusaha menambah perbendaharaan hartanya
5)  Tidak mensyukuri nikmat yang sedikit. Maunya nikmat-nikmat yang besar, banyak dan melimpah.
 
Bahaya Hubbu ad-Dunya
1)  Cinta dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah, misalnya, shalat, puasa dan 
     sedekah. 
2)  Jika seorang telah dikuasai (hatinya) oleh iblis, maka akan menjadi lemah, iblis akan membolak-
     balikan hatinya bagaikan seorang anak kecil mempermainkan bola. Karena orang yang mabuk 
     karena cinta dunia tidak akan sadar kecuali setelah berada di dalam kubur. 
3)  Cinta dunia merupakan sumber segala kesalahan karena cinta dunia, sering mengakibatkan 
     seseorang cinta terhadap harta benda dan di dalam harta benda terdapat banyak penyakit. 
4)  Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi 
     sombong, dengki, serakah dan cenderung melelahkan diri sendiri memikirkan yang tidak ada. Makin 
     cinta pada dunia, akan makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang 
     diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk 
     kepentingan dirinya 

Cara menghindari hubbu ad-dun-ya
1. Mengingat kehidupan di dunia itu hanya sementara. 
2. Perbanyak mengingat kematian. (QS. Ali Imran [3] : 185)
3. Meyakini dan menyadari bahwa setiap tindakan kita direkam oleh anggota badan kita, yang nanti di 
   hari akhir, ; tangan, kaki, lidah kita akan bersaksi di depan Allah (QS. Fushshilat [41] : 20 - 22)
4. Qana’ah, yaitu rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari 
    sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.
5. Zikir, merupakan metode yang paling efektif untuk membersihkan hati dan meraih kehadiran Ilahi.
6  Kuatnya iman seseorang dan menerapkan muraqabah. Meyakini bahwa Allah selalu melihat kita,  
7. Pengabdian penuh khidmat, yaitu saat-saat beribadah, kita lakukan dengan cara tulus ikhlas sepenuh 
    hati kepada-Nya.
8. Sadar bahwa dunia dan seisinya adalah amanah Allah. Semua akan dipertanggungjawabkan di 
    hadapan Allah di akhirat. Semakin tinggi jabatan, kedudukan, dan semakin banyak nikmat yang 
    diterima seseorang di dunia, maka semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat.
9. Oleh sebab itu, jangan pernah “kecukupan” atau kekurangan “dunia” ini merusak hati kita. Jika 
    berkecukupan, jangan sampai kecukupan kita menjadikan kita sombong, dan jika kekurangan, maka 
    jangan sampai kekurangan kita itu, membuat kita jadi kurang mensyukuri nikmat Allah, banyak
    mengeluh dan minder
B. Hasad
Pengertian
      Hasad berarti dengki maksudnya suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena rasa iri. Orang yang hasut menginginkan kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berharap supaya berpindah kepadanya. Ia juga tidak suka jika ada orang lain yang menyamainya baik dalam hal prestasi maupun materi. 

Bahaya Hasad
1. Larangan melakukan hasad disebabkan karena mengandung beberapa efek negatif, di antaranya:
2.Hasad adalah salah satu sifat Iblis karena Iblis tidak mau melaksanakan perintah Allah untuk sujud 
   kepada Adam A.s. Sifat dengki tidak bermanfaat bagi orang yang dengki karena dengki akan merusak
   amal kebaikan, sama halnya pendengki selalu gelisah dan tidak senang karena hatinya tidak rela jika 
   melihat orang lain mendapat kenikmatan. Setiap kali ada orang mendapat kenikmatan ia gelisah dan 
   menderita batin;
   “ Jauhilah olehmu sifat dengki, sesungguhnya dengki itu akan memakan kebajikan sebagaimana api 
      memakan kayu bakar “ (HR. Ab Dud)
2. Di samping itu hasad juga merusak tatanan masyarakat. Hasad merusak pergaulan menjadi tidak 
    harmonis dan tidak tulus. Hasad akan memunculkan rasa curiga mencurigai. Hasad juga kerap kali 
    menimbulkan fitnah di tengah-tengah masyarakat;
3. Mengarah kepada perbuatan maksiat. Dengan berlaku hasad secara otomatis seseorang pasti 
    melakukan pula hal-hal seperti ghibah, mengumpat, dan berdusta;
4. Sikap hasad juga bisa mengarah kepada sik, misalnya ingin mencelakakan orang bahkan bisa 
    berujung pada kejahatan pembunuhan;
5. Menjerumuskan pelakunya masuk ke neraka;
6. Menyakiti hati orang lain;
7. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat;
8. Mematikan hati, menyebabkan pelakunya tidak memahami hukum dan ketentuan Allah;
9. Membuat dirinya hina di hadapan Allah dan di hadapan sesama.

Cara Mengobati Penyakit Hasad
1. Menanamkan kesadaran bahwa sifat dengki akan membuat seseorang menderita batin;
2. Menumbuhkan kesadaran bahwa akibat dari dengki itu adalah permusuhan dan permusuhan akan 
    membawa petaka
3. Kita saling mengingatkan dan saling menasehati
4. Bersikap realistis melihat kenyataan 
5. Mempunyai pendirian dan tidak mudah terprovokasi
6. Senantiasa ingat pada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya agar terhindar dari bisikan 
    syetan.

Takabur-Ujub
 Pengertian Takabur-Ujub
        Secara bahasa (etimologi), ‘Ujub, berasal dari kata “’ajaba”, yang artinya “kagum, terheran-heran, takjub. Al-I’jabu bin Nafsi berarti kagum pada diri sendiri. Sedangkan takabur berarti “sombong” atau “berusaha menampakkan keagungan diri”. Dalam kitab lisanul Arab, antara lain disebutkan bahwa at-takabur wal istikbar berarti at-ta’azzhum (sombong/ Kibr).
       Secara istilah dapat kita pahami bahwa ‘ujub yaitu suatu sikap membanggakan diri, dengan memberikan satu penghargaan yang terlalu berlebihan kepada kemampuan diri. 

Penyebab Takabur-ujub
1)  Ujub dan takabur karena kelebihan sik, misalnya tampan, cantik dan kuat. Ia merasa bahwa siknya lebih hebat, lebih cantik atau lebih tampan dan kuat daripada yang lainnya. Ditambah dengan suaranya yang lebih merdu. lantas ia takabur dan merendahkan yang lainnya.]
2)  Ujub dan takabur karena kekuatan siknya dalam melawan musuh. Ia takabur dan sesumbar bahwa tidak akan ada orang yang dapat mengalahkan Dia. Ini adalah sikap yang keliru, karena akan menghilangkan kewaspadaannya. Ia akan lemah karena menganggap enteng lawan.
3)  Ujub dan takabur karena ilmu, akal dan kecerdikannya dalam memahami ilmu-ilmu agama dan juga urusan-urusan keduniaannya. Umumnya orang yang demikian itu merasa dan menggap dirinya paling pintar dan merasa bahwa pendapatnya paling benar.
4)  Ujub dan takabur karena keturunan. Artinya sombong dirinya, karena ia merasa dirinya turunan ningrat atau bangsawan. Biasanya orang yang demikian itu menganggap bahwa dirinyalah yang harus dihormati dan di muliakan. Ia harus di perioritaskan dalam segala hal. ia selalu mebayangkan bahwa orang yang ada di sekitarnya itu adalah pembantunya.
5)  Ujub dan takabur karena banyak anaknya yang dapat diandalkan, banyak keponakan dan anggota lainnya yang sukses, banyak temannya yang mempunyai kedudukan tinggi dan lain sebagainya. Semuanya dibangga-banggakan secara berlebihan sampai takabur dan sombong.
6)  Ujub dan takabur karena harta yang berlimpah ruah. Ia sombong, takabur, dan riya dengan hartanya itu. Seolah-olah dia saja yang yang kaya. Ia suka bercerita dan pamer tentang hartanya yang melimpah dan terdapat di mana-mana. Termasuk ketika ia berbuat baik dengan hartanya misalnya zakat dan sedekah ia lakukan bukan karena Allah tetapi karena pamer atau riya’.

Bahaya Takabur-Ujub
1). ‘Ujub menyebabkan timbulnya rasa sombong (takabur), sebab memang ‘ujub itulah yang menyebabkan salah satu dari berbagai seba kesombongan timbul. Dari ‘ujub maka muncullah ketakaburan.
2).  Bila seseorang sudah dihinggapi penyakit ‘ujub dan takabur, ia lupa pada bahaya-bahaya ‘ujub dan takabur itu sendiri, ia sudah tertipu oleh perasaan, dan pendapatnya sendiri. Ia merasa apa yang datang dari dirinya sendiri semua serba hebat dan agung. 
3).  Karena ‘ujub dan takabur membuat seseorang kurang sadar terhadap kedudukan dirinya, ia akan memuji-muji dirinya, menyanjung dirinya sendiri dan menganggap suci dirinya serta bersih dari segala kesalahan dan dosa.
4).  Seorang yang ‘ujub dan takabur tidak mau belajar kepada orang lain, sebab ia sudah merasa amat pandai. Ia tidak suka bertanya kepada siapapun juga, karena merasa malu, khawatir dianggap bodoh.
5).  Orang yang memiliki sikap ujub dan takabur jika usahanya gagal, orang ini akan melemparkan kesalahan pada orang lain, rekan atau bawahannya.
6). Orangyangsombongdantakaburakanbanggadangembirakalausegala sesuatu itu timbul dari gagasannya dan suka sekali mempopulerkan apa- apa yang ada pada dirinya, sebaliknya tidak suka kepada kemashuran yang dicapai oleh apa-apa yang digagas oleh orang lain.
7).Membatalkan pahala. Seseorang yang merasa ujub dengan amal kebajikannya, maka pahalanya akan gugur dan amalannya akan sia- sia. Karena Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikitpun kecuali dengan ikhlas karena-Nya.
8). Menyebabkan orang lain membenci pelakunya. Pada umumnya, orang tidak suka terhadap orang yang membanggakan diri, mengagumi diri sendiri dan sombong. Oleh karena itu, orang yang ujub tidak akan banyak temannya, bahkan ia akan dibenci meskipun luas ilmunya dan terpandang kedudukannya
7) Ujub dan takabur adalah gambaran kejiwaan yang sangat berlebih- lebihan, saat seseorang menganggap dirinya paling hebat dibandingkan yang lainnya. Ia merasa paling pintar, paling gagah, paling kaya, paling berkuasa, paling dominan dan sebagainya. Pokoknya ia merasa orang super dalam segala hal, yang akhirnya memicu sifat arogansi dalam dirinya, menghina dan melecehkan orang lain
8. Akibat buruk dari ujub dan takabur ialah hilangnya rasa saling hormat menghormati, lenyapnya rasa simpati orang kepadanya, menanamkan kebencian.

CaraMenghindariTakabur-Ujub
1)  Kita harus memiliki sifat percaya diri  tetapi jika sudah memasuki ketakaburan dan menganggap rendah terhadap yang lain, inilah yang dikatakan ujub yang di larang agama. Hal tersebut harus dihindari dengan cara bahwa kita harus percaya diri tetapi ingat bahwa kita tetap punya sisi lemah. Orang lain juga mempunyai potensi dan kita harus menghargai potensi tersebut. Ada pepatah yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit.
2)  Kita harus ingat dan sadar, bahwa dalam sejarah, orang yang ujub, takabur dengan kekuatannya, maka Allah yang akan menghancurkannya, karea Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
3)  Kita juga harus sadar bahwa ilmu yang kita miliki sangatlah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah Swt. Bakhan sesungguhnya ilmu kita lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang sekitar kita. Kita hanya paham sesuatu yang pernah kita lihat, kita baca dan kita dengarkan, selebihnya kita tidak mengerti. Hal tersebut seperti pengakuan para malaikat.
4)  Kita harus sadar bahwa sik yang gagah, wajah yang tampan rupawan, cantik jelita adalah anugrah Allah dan sifatnya sementara, yaitu ketika masih usia muda. Hal tersebut juga merupakan ukuran kemulianeseorang di hadapan Allah Swt. Karena yang menentukan kemulianadalah ketakwaannya.
5) Kita juga harus ingat bahwa harta yang kita miliki juga titipan Allahyang harus dijaga dan digunakan untuk jalan yang benar. Harta bukan untuk disombong-sombongkan seperti yang dilakukan oleh Qarun.Demikian pula dengan jabatan, kedudukan dan leluhur yang bangsawan tidak pantas untuk dijadikan alas an untuk sombong. Semua adalah amanah dan anugerah dari Allah Swt.

RIYA'
Pengertian
Riya' adalah mengerjakan suatu perbuatan atau ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain, bukan karena Allah semata. Orang riya’ tidak ikhlas dalam beramal, ia senantiasa pamer dan cari perhatian supaya mendapat pujian, sanjungan dan pengakuan.
Ada beberapa ayat yang membahas tentang riya’ antara lain :
  1. QS. Al-M’un [107] : 4-7.
  2. QS. Al-Baqarah [2] : 264.
  3. QS. An-Nis’ [4] : 142.
b. Bentuk Riya’
1. Riya’ dalam niat
          Ketika seseorang akan melakukan sebuah amal dalam hatinya telah ada keinginan atau tujuan selain  mencari ridha Allah. Ia sejak awal telah mempunyai niat tidak ikhlas. Padahal diterima atau tidaknya  amal ibadah yang kita lakukan sangatlah bergantung pada niat. 
  “ Sesungguhnya sahnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya” (HR. Muslim)
2. Riya’dalam perbuatan
         Yang dimaksud dengan riya’ dalam perbuatan adalah ketika kita melakukan sebuah amal ibadah ia berharap mendapat perhatian dari orang lain. Kadang-kadang berlebih-lebihan di dalam melakukan ibadah tersebut contoh ketika ia membaca al-Fatihah dalam salat ia baca dengan cara yang tidak wajar. Ia juga menunda sebuah amal karena belum ada yang memperhatikan misalnya ia mau memasukkan uang amal ke kotak amal, ia menunggu ada orang lain yang melihatnya kalau tidak ada yang memperhatikan ia tidak jadi beramal atau jumlahnya dikurangi.

Bahaya Riya'
1. Akan merasa hampa dan kecewa dalam batinnya apabila perhatian atau pujian yang ia   harapkan 
    ternyata tidak ia dapatkan;
2. Muncul rasa tidak puas terhadap apa yang ia lakukan
3. Muncul sikap keberpura-puraan
4. Terkena penyakit rohani berupa gila pujian atau gila horma
5. Bisa menimbulkan pertengkaran apabila ia mengungkit-ungkit kebaikannya terhadap orang lain.

Cara Menanggulangi Penyakit Riya
1. Memfokuskan niat ibadah, bahwa ibadah kita hanya untuk Allah;
2. Hindari sikap suka memamerkan sesuatu yang kita punya, karena pada hakikatnya yang kita punya 
    itu hanyalah milik Allah;
3, Tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi orang lain;
4. Saling menasihati dan mengingatkan jika di antara kita ada yang berperilaku riya’;
5. Membiasakan diri bersyukur pada Allah;
6. Melakukan ibadah dengan khusyu’ baik di tempat ramai maupun di empat sunyi;
7. Senantiasa berdzikir kepada Allah dan selalu berlindung kepada
8. Allah agar kita dijauhkan dari sifat riya’ dan sum’ah. 

Lanjut lagi yah dipostingan berikutnya . .. . di  03. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK
 

01. SIAP UAMBN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

Berikut ini saya bagikan ringkasan materi untuk mempermudah siswa kelas XII Madrsah Aliyah dalam mempersiapkan diri menghadapi UAMBN mata pelajaran Aqidah Akhlak. Materi ini disusun berdasarkan kisi-kisi UAMBN.

1. Metode peningkatan kualitas aqidah: 

  • Melalui pembiasaan dan keteladanan : Pembiasaan dan keteladanan bisa dimulai dari keluarga . Disini menjadi seran orangtua sangat penting agar aqidah itu bisa tertanam didalam hati sanubari anggota keluarganya sedini mungkin. Keberhasilan penanaman aqidah tidak hanya menjadi tanggung jawab guru saja, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak . Karena itu semuanya harus terlibat. Selain itu pembiasaan hidup dengan kekuatan aqidah itu harus dilakukan secara berulang-ulang (istiqamah), agar menjadi semakin kuat imannya.
  • Melalui pendidikan dan pengajaran : Pendidikan dan pengajaran dapat dilaksanakan baik dalam keluarga, masyarakat atau lembaga pendidikan formal. Pendidikan keimanan ini memerlukan keterlibatan orang lain untuk menanamkan akidah didalam hatinya. Penanaman kalimat-kalimat yang baik seperti dua kalimat syahadat dan kalimat laa ilaaha illallah sangat penting untuk menguatkan keimanan seseorang
2. Konsep tauhid menurut para Ahli :
  • Syekh Muhammad Abduh : tauhid adalah ilmu yang membahas tentang segala hal yang berkaitan dengan Ketuhanan. Segala hal tentang wujud Allah, sifat Allah, dan lain sebagainya yang menjadi sebuah dalil akan keberadaan Allah. Dan dengan ilmu tauhid  akan menjadikan kamu yakin akan keberadaan Allah. 
  • M. Qusaih Shihab tauhid itu mencakup keesaan zat, keesaan sifat, keesaan perbuatan serta keesaan dalam beribadah kepada-Nya. Keesaan Zat mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah Swt. tidak terdiri dari unsur-unsur, atau bagian-bagian. Karena, bila Zat Yang Maha Kuasa itu terdiri dari dua unsur atau lebih betapapun kecilnya unsur atau bagian itu—maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian itu, atau dengan kata lain, unsur atau bagian ini merupakan syarat bagi wujud-Nya. Adapun keesaan dalam sifat-Nya, mengandung pengertian bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan untuk menunjuk sifat tersebut sama. Sebagai contoh, kata rahim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk menunjuk rahmat atau kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya. Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang menyamai substansi dan kapasitas tersebut.Keesaan dalam perbuatan-Nya mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujudnya, kesemuanya adalah hasil Perbuatan Allah semata.Sedangkan keesaan dalam beribadah merupakan perwujudan dari ketiga keesaan di atas. 
3. Menjelaskan tentang hikmah, iffah, syaja'ah dan 'adalah
  • Hikmah : 

    a. Pengertian Hikmah dan Ruang Lingkupnya

    Secara bahasa al-hikmah berarti: kebijaksanaan, pendapat

    atau pikiran yang bagus, pengetahuan, lsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur'an. Menurut Al-Maraghi dalam kitab Tafsirnya, menjelaskan al-Hikmah sebagai perkataan yang tepat lagi tegas yang diikuti dengan dalil-dalil yang dapat menyingkap kebenaran. Sedangkan menurut Toha Jahja Omar; hikmah adalah bijaksana, artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan kitalah yang harus berpikir, berusaha, menyusun, mengatur cara-cara dengan menyesuaikan kepada keadaan dan zaman, asal tidak bertentangan dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah sebagaimana dalam ketentuan hukum-Nya.
    Dalam kata al-hikmah terdapat makna pencegahan, dan ini meliputi beberapa makna, yaitu:
    1. 1)  Adil akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam kezaliman.
    2. 2)  Hilm akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam
      kemarahan.
    3. 3)  Ilmu akan mencegah pelakunya dari terjerumus ke dalam kejahilan.
    4. 4)  Nubuwwah, seorang Nabi tidak lain diutus untuk mencegah
      manusia dari menyembah selain Allah, dan dari terjerumus kedalam kemaksiatan serta perbuatan dosa. al-Qur’an dan seluruh kitab samawiyyah diturunkan oleh Allah agar manusia terhindar dari syirik, mungkar, dan perbuatan buruk.
      Lafad al-hikmah tersebut dalam al-Qur’an sebanyak dua puluh
    kali dengan berbagai makna.
    1. Bermakna pengajaran Al-Qur’an


      “Dan apa yang telah diurunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan al-hikmah, Allah memberikan pengajaran ( mau’iza h ) kepadamu dengan apa yang diturunkannya itu “
      (QS. Al-Baqarah [2] : 231)

    2. Bermakna pemahaman dan ilmu
      '' Hai Yahya, ambillah Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.'' (QS. Maryam [19 ]: 12)
    3. Bermakna An-Nubuwwah (kenabian). (QS.An-Nis' [4] :5 4 dan QS d [38] : 20)
    4. Bermakna al-Qur’an yang mengandung keajaiban-keajaiban dan penuh rahasia (QS. Al-Baqarah [2] : 269)
      Abdurrahman As-Sa’di menafsirkan kata Al-hikmah denganilmu- ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan-pengetahuan yang benar, akal yang lurus, kecerdasan yang murni, tepat dan benar dalam hal perkataan maupun perbuatan.”Kemudian beliau berkata, “seluruh perkara tidak akan baik kecuali dengan al-hikmah, yang tidak lain adalah menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya; mendudukkan perkara pada tempatnya, mengundurkan ( waktu ) jika memang sesuai dengan kondisinya, dan memajukan ( waktu ) jika memang sesuai dengan yang dikehendaki.”

      b. Anjuran Memiliki Hikmah

                Hikmah itu adalah Setiap perkataan yang benar dan menyebabkan perbuatan yang benar. Hikmah ialah: ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, kebenaran dalam perbuatan dan perkataan, mengetahui kebenaran dan mengamalkanya.

               Tidaklah cukup dalam mengamalkan ajaran agama hanya dengan al-Qur’an saja tanpa dengan al-Hikmah yang berarti as-sunnah
      atau pemahaman yang benar tentang al-Qur’an, karena itulah as-
      sunnah juga disebut sebagai al-hikmah. Orang yang dianugerahi
      al-hikmah adalah: Orang yang mempunyai ilmu mendalam dan mampu
      mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan. Orang yang benar
      dalam perkataan dan perbuatan. Orang yang menempatkan sesuatu
      sesuai pada tempatnya (adil). Orang yang mampu memahami dan menerapkan hukum Allah Swt
      Setelah seseorang mendapatkan hikmah, maka baginya wajib untuk menyampaikan atau mendakwahkannya sesuai dengan rman Allah
      Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-ahl [16] : 125)
      Hikmah dalam berdakwah tidak terbatas pada makna: perkataan yang lemah lembut, pemberian motivasi, hilm ( tidak cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh), halus ataupun pemaaf. Namun, hikmah juga mencakup pemahaman yang mendalam tentang berbagai perkara berikut hukum-hukumnya, sehingga dapat menempatkan seluruh perkara tersebut pada tempatnya, yaitu 
      1. 1)  Dapat menempatkan perkataan yang bijak, pengajaran, serta pendidikan sesuai dengan tempatnya. Berkata dan berbuat secara tepat dan benar
      2. 2)  Dapat memberi nasihat pada tempatnya
      3. 3)  Dapat menempatkan mujadalah (dialog) yang baik pada tempatnya.
      4. 4)  Dapat menempatkan sikap tegas
      5. 5)  Memberikan hak setiap sesuatu, tidak berkurang dan tidak  berlebih, tidak lebih cepat ataupun lebih lambat dari waktu yang dibutuhkannya
      c. Keutamaan Hikmah
      1. 1)  memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam melaksanakan dan    
             membela kebenaran ataupun keadilan,
      2. 2) menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal utama yang terus  
             dikembangkan,
      3. 3)  mampu berkomunikasi denga orang lain dengan beragam pendekatan 
              dan bahasan,
      4. 4)  memiliki semangat juang yang tinggi untuk mensyiarkan kebenaran 
              dengan beramar makruf nahi munkar,
      5. 5)  senantisa berpikir positif untuk mencari solusi dari semua persoalan 
             yang dihadapi,
      6. 6)  memiliki daya penalaran yang obyektif dan otentik dalam semua bidang 
             kehidupan,
      7. 7)  orang-orang yang dalam perkataan dan perbuatannya senantiasa 
              selaras dengan sunnah Rasulullah
      3. Membiasakan Sikap Iffah
      1. Pengertian ‘Iffah
        Secara etimologis, ‘iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu- ‘iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, iffah juga berarti kesucian tubuh. Secara terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya.
        Iffah (al-iffah) juga dapat dimaknai sebagai usaha untuk memelihara kesucian diri (al-iffah) adalah menjaga diri dari segala tuduhan, tnah, dan memelihara kehormatan.
      2. Iffah dalam Kehidupan
        iffah hendaklah dilakukan setiap waktu agar tetap berada dalam keadaan kesucian. Hal ini dapat dilakukan dimulai memelihara hati (qalbu) untuk tidak membuat rencana dan angan-angan yang buruk. Sedangkan kesucian diri terbagi ke dalam beberapa bagian: 
                a)  Kesucian Panca Indra; (QS. An-Nr [24] : 33)
        1. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. (QS. An-Nr [24] : 33)
          b)  Kesucian Jasad; (QS. Al-Azb [33] : 59)



        '' Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: «Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka». yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Azb [33] : 59)

        c) Kesucian dari Memakan Harta Orang Lain; (QS. An-Nisa [4] : 6)
        '' Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. ke mudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)''. (QS. An-Nis' [4] : 6)


        d). KesucianLisan

        Dengan cara tidak berkata menyakitkan orang tua seperti firman Allah Swt.
        ''Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan «ah» dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia'' (QS. Al Isr’ [17] : 23) 

        c. Keutamaan Iffah

        Dengan demikian, seorang yang ‘af adalah orang yang

        bisa menahan diri dari perkara-perkara yang dihalalkan ataupun diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah:.
        Artinya; “Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

               Agar seorang mukmin memiliki sikap iffah, maka harus melakukan usaha-usaha untuk membimbing jiwanya dengan melakukan dua hal berikut: 
        1. 1)  Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk, baik secara lisan (lisnul maqal) maupun keadaan (lisanul hl).
        2. 2)  Merasa cukup dengan Allah, percaya dengan pencukupan-Nya. Siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Allah itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya.

          Untuk mengembangkan sikap ‘iffah ini, maka ada beberapa hal
        yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menjaga kehormatan diri, di antaranya:
        1. 1)  Selalu mengendalikan dan membawa diri agar tetap menegakan
          sunnah Rasulullah,
        2. 2)  Senantiasa mempertimbangkan teman bergaul dengan teman yang
          jelas akhlaknya,
        3. 3)  Selalau mengontrol diri dalam urusan makan, minum dan berpakaian
          secara Islami,
        4. 4)  Selalu menjaga kehalalan makanan, minuman dan rizki yang
          diperolehnya,
        5. 5)  Menundukkan pandangan mata (ghadul bashar) dan menjaga
          kemaluannya,
        6. 6)  Tidakkhalwat(berduaan)denganlelakiatauperempuanyangbukan
          mahramnya,
        7. 7)  Senantiasa menjauh diri dari hal-hal yang dapat mengundang tnah.
          Iffah merupakan akhlak paling tinggi dan dicintai Allah Swt.
        Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap keinginan- keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah dewasa. Dari sifat ’iffah akan lahir sifat-sifat mulia seperti: sabar, qana’ah, jujur, santun, dan akhlak terpuji lainnya.
        Ketika sifat ’iffah ini sudah hilang dari dalam diri seseorang, akan membawa pengaruh buruk dalam diri seseorang, akal sehat akan tertutup oleh nafsu syahwatnya, ia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan salah, mana baik dan buruk, yang halal dan haram.

        4. Mengembangkan Sikap Syaja’ah
        1. Pengertian Syaja’ah
          Secara etimologi kata al-syaja’ah berarti berani antonimnya dari kata al-jabn yang berarti pengecut. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran di medan perang. Sisi positif dari sikap berani yaitu mendorong seorang muslim untuk melakukan pekerjaan berat dan mengandung resiko dalam rangka membela kehormatannya. Tetapi sikap ini bila tidak digunakan sebagaimana mestinya menjerumuskan seorang muslim kepada kehinaan.
          Syaja’ah dalam kamus bahasa Arab artinya keberanian atau keperwiraan, yaitu seseorang yang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalam jiwanya ada keberanian menerima musibah atau keberanian dalam mengerjakan sesuatu. Pada diri seorang pengecut sukar didapatkan sikap sabar dan berani. Selain itu Syaja’ah (berani) bukanlah semata- mata berani berkelahi di medan laga, melainkan suatu sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya.

        2. PenerapanSyaja’ahdalamKehidupan
          Sumber keberanian yang dimiliki seseorang diantaranya yaitu;

          1. 1)  Rasa takut kepada Allah Swt.
          2. 2)  Lebih mencintai akhirat daripada dunia,
          3. 3)  Tidak ragu-ragu, berani dengan pertimbangan yang matang
          4. 4)  Tidak menomori satukan kekuatan materi,
          5. 5)  Tawakal dan yakin akan pertolongan Allah,

          Jadi berani adalah: “Sikap dewasa dalam menghadapi kesulitan atau
        bahaya ketika mengancam. Orang yang melihat kejahatan, dan khawatir terkena dampaknya, kemudian menentang maka itulah pemberani. Orang yang berbuat maksimal sesuai statusnya itulah pemberani (al-syujja’). 
        Al-syajja’ah (berani) bukan sinonim ‘adam al-khauf (tidak takut sama sekali)”
               Berdasarkan pengertian yang ada di atas, dipahami bahwa berani terhadap sesuatu bukan berarti hilangnya rasa takut menghadapinya. Keberanian dinilai dari tindakan yang berorientasi kepada aspek maslahat dan tanggung jawab dan berdasarkan pertimbangan maslahat.
               Predikat pemberani bukan hanya diperuntukkan kepada pahlawan yang berjuang di medan perang. Setiap profesi dikategorikan berani apabila mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara bertanggungjawab. Kepala keluarga dikategorikan berani apabila mampu menjalankan tanggungjawabnya secara maksimal, pegawai dikatakan berani apabila mampu menjalankan tugasnya secara baik, dan seterus nya.Keberanian terbagi kepada terpuji(al-mahmudah) dan tercela (al-madzmumah). Keberanian yang terpuji adalah yang mendorong berbuat maksimal dalam setiap peranan yang diemban, dan inilah hakikat pahlawan sejati. Sedangkan berani yang tercela adalah apabila mendorong berbuat tanpa perhitungan dan tidak tepat penggunaannya.

        Syaja’ah dapat dibagi menjadi dua macam:
        1. 1)  Syaja’ah harbiyah, yaitu keberanian yang kelihatan atau tampak,
          misalnya keberanian dalam medan tempur di waktu perang.
        2. 2)  Syaja’ah nafsiyah, yaitu keberanian menghadapi bahaya atau
          penderitaan dan menegakkan kebenaran.

        Munculnya sikap syaja’ah tidak terlepas dari keadaan-keadaan sebagai berikut:
        1)  Berani membenarkan yang benar dan berani mengingatkan yang salah.
        2)  Berani membela hak milik, jiwa dan raga, dalam kebenaran.
        3)  Berani membela kesucian agama dan kehormatan bangsa. 

        Dari dua macam syaja’ah (keberanian) tersebut di atas, maka syaja’ah dapat dituangkan dalam beberapa bentuk, yakni:
        a)  Memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, 
             penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada 
             di jalan Allah.  
        b)  Berterus terang dalam kebenaran dan berkata benar di hadapan 
             penguasa yang zalim.
        c)  Mampu menyimpan rahasia, bekerja dengan baik, cermat dan penuh 
           perhitungan. Kemampuan merencanakan dan mengatur strategi termasuk
            di dalamnya mampu menyimpan rahasia adalah merupakan bentuk  
            keberanian yang bertanggung jawab. 
        d)  Berani mengakui kesalahan salah satu orang yang memiliki sifat 
             pengecut yang tidak mau mengakui kesalahan dan mencari kambing 
            hitam, bersikap ”lempar batu sembunyi tangan” Orang yang memiliki sifat  
          syaja’ah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia 
           mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab.
        e)  Bersikap obyektif terhadap diri sendiri. Ada orang yang cenderung 
            bersikap “over condence” terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, 
            hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta kekurangan. 
            Sebaliknya ada yang bersikap “under estimate” terhadap dirinya yakni 
            menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak 
           memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional 
           dan tidak obyektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam
           mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.
        f) Menahan nafsu di saat marah, seseorang dikatakan berani bila ia tetap 
           mampu ber–mujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. 
          Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya  
          padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan 
          amarahnya.

        c. Hikmah syaja’ah
                   Dalam ajaran agama Islam sifat perwira ini sangat di anjurkan untuk di miliki setiap muslim, sebab selain merupakan sifat terpuji juga dapat mendatangkan berbagai kebaikan bagi kehidupan beragama berbangsa dan bernegara.
              Syaja’ah (perwira) akan menimbulkan hikmah dalam bentuk sifat mulia, cepat, tanggap, perkasa, memaafkan, tangguh, menahan amarah, tenang, mencintai. Akan tetapi apabila seorang terlalu dominan keberaniannya, apabila tidak dikontrol dengan kecerdasan dan keikhlasan akan dapat memunculkan sifat ceroboh, takabur, meremehkan orang lain, unggul-unggulan, ujub. Sebaliknya jika seorang mukmin kurang syaja’ah, maka akan dapat memunculkan sifat rendah diri, cemas, kecewa, kecil hati dan sebagainya.
        5. Menegakkan Sikap ’Adalah 
        1. Pengertian
                       Pengertian adil menurut bahasa adalah sebagai berikut.
        Meletakkan sesuatu pada tempatnya. Adil juga berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, atau menyamakan yang satu dengan yang lain. Berlaku adil adalah memperlakukan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak memihak, dan tidak merugikan pihak mana pun. Adil dapat berarti tidak berat sebelah serta berarti sepatutnya, tidak sewenang-wenang.
               Jamil Shaliba, penulis kamus Filsafat Arab, mengatakan bahwa, menurut bahasa adil berarti al-Istiqamah yang berarti tetap pada pendirian, sedangkan dalam syari'at adil berarti tetap dalam pendirian dalam mengikuti jalan yang benar serta menjauhi perbuatan yang dilarang serta kemampuan akal dalam menundukkan hawa nafsu. Sebagaimana firrman di bawah ini. 
        '' Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. an-Nal [16] : 90
        2. Bentuk-Bentuk Adil
        a. Adil terhadap Allah, artinya menempatkan Allah pada tempatnya yang 
            benar, yakni sebagai makhluk Allah dengan teguh melaksanakan apa   
            yang diwajibkan kepada kita, Sehingga benar-benar Allah sebagai 
            Tuhan kita.
        b. Adil terhadap diri sendiri, yaitu menempatkan diri pribadi pada tempat
            yang baik dan benar. Untuk itu kita harus teguh, kukuh menempatkan diri 
            kita agar tetap terjaga dan terpelihara dalam kebaikan dan keselamatan.   
            Untuk mewujudkan hal tersebut kita harus memenuhi kebutuhan jasmani 
            dan rohani serta menghindari segala perbuatan yang dapat 
            mencelakakan diri.
        c. Adil terhadap orang lain, yakni menempatkan orang lain pada tempatnya  
            yang sesuai, layak, dan benar. Kita harus memberikan hak orang lain 
            dengan jujur dan benar tidak mengurangi sedikitpun hak yang harus 
            diterimanya.
        d. Adil terhadap makhluk lain, artinya dapat menempatkan makhluk lain 
            pada tempatnya yang sesuai, misalnya adil kepada binatang, harus 
            menempatkannya pada tempat yang layak menurut kebiasaan binatang 
            tersebut.

        Kedudukan dan Keutamaan adil
        a. Terciptanya rasa aman dan tentram karena semua telah  merasa 
            diperlakukan dengan adil.
        b. Membentuk pribadi yang melaksanakan kewajiban dengan baik
        c. Menciptakan kerukunan dan kedamaian
        d. Keadilan adalah dambaan setiap orang.Alangkah bahagianya 
            apabilankeadilan bisa ditegakkan demi masyarakat, bangsa dan negara, 
             agar masyarakat merasa tentram dan damai lahir dan batin.
        e. Begitu mulianya orang yang berbuat adil sehingga Allah tidak akan 
             menolak doanya. Demikian pula Allah sangat mengasihi orang yang 
             dizalimi (tidak diperlakukan secara adil) sehingga Allah tidak akan 
              menolak doanya.

        Kita lanjutkan pada postingan selanjutnya yah…. :)






SEOLAH AMNESIA

Pernah, dia menulis banyak hal Pernah, begitu mudah baginya menemukan ispirasi  untuk menuliskan hal yang positif Saat ini  Tak akan pernah ...